Ikatan keluarga Madura atau yang biasa disebut IKAMA adalah merupakan organisasi paguyuban etnis masyarakat perantauan asal Madura yang ada di Jakarta. Ia didirikan bermula dari terbentuknya “perkumpulan-perkumpulan” kecil yang biasa dilakukan orang-orang Madura sebagai wadah berkumpul dan bersilaturrahmi sesama suku. Perkumpulan atau kelompok kecil tersebut dikemas dalam beberapa bentuk kegiatan khas masyarakat Madura, seperti kelompok yasinan dan sholawatan yang biasa dilakukan setiap malam jum’at, kelompok arisan atau to’oto’ yang biasanya dilakukan setiap malam minggu. Selain itu, pada saat-saat tertentu mereka sering menyelenggarakan kegiatan sosial keagamaan berupa pengajian umum, santunan, peringatan hari besar islam, malam pengumpulan dana untuk pembangunan masjid atau madrasah.
Disadari atau tidak, kebiasaan berkumpul atau berkelompok dan bersilaturrahmi melalui perkumpulan-perkumpulan kecil seperti disebut diatas, sesungguhnya merupakan bagian dari karakter hidup masyarakat Madura, khususnya di Jakarta. Sehingga dalam perkembangan berikutnya, perkumpulan-perkumpulan kecil inilah yang menjadi cikal bakal sekaligus inspirasi bagi beberapa tokoh saat itu untuk mendirikan organisasi paguyuban etnis Madura yang kemudian disebut nama IKAMA.
Dan mulai sejak berdirinya yaitu pada tahun 1974 IKAMA yang berdomisili diatas tanah seluas 3.000 M2 dengan sertifikat HGB no. 929 di kelurahan Semper Timur Jakarta Utara hakikatnya telah menjadi “Rumah Besar” bagi orang orang Madura. Dan seperti halnya “Rumah Besar”, IKAMA diharapkan dapat memberikan manfaat dan kontribusi besar bagi orang-orang Madura yang ada di Jakarta dan sekitarnya serta bagi masyarakat pada umumnya.
Tokoh di IKAMA
Adapun tokoh dan sesepuh yang turut berjasa dalam melahirkan IKAMA saat itu antara lain:
- KH.R. Amin Imron (cucu Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan)
- KH. Sa’ad Samlan
- KH. Syukron Makmun
- H. Sirat
- H. Fadli Syarif
- H. Nashir
- H. Makruf
- H. Muslimin
- KH. Hasan Bisyri
- Jenderal TNI (Purn.) Raden Hartono
- H. Abd. Hamid
- Bapak Mian
- Dan sesepuh serta tokoh Madura yang lain.
Adapun beberapa nama tokoh yang berjasa dan pernah memimpin IKAMA antara lain:
- H. Fadli Syarif
- H. Nashir
- H. Abd. Aziz
- KH. Hasan Bisyri
- H. Mattikram
- H. Rosyid
- H. Sawai
- dan saat ini IKAMA berada dalam Pimpinan Abah H. Muhammad Rawi.
Tujuan IKAMA
Dilihat dari asal muasal berdirinya, IKAMA didirikan awalnya dengan tujuan yang sangat sederhana yaitu sebagai wadah berkumpul dan bersilaturrahmi orang-orang Madura yang ada di Jakarta, sebagai sarana membangun persatuan dan persaudaraan yang lebih kompak, dan lebih dari itu sebagai media dakwah keislaman.
Namun sesuai dengan perkembangan peradaban dan potensi orang-orang Madura yang berada di Jakarta dari masa ke masa, beberapa tokoh dan sesepuh IKAMA punya keinginan luhur untuk membangun komitmen bersama, agar melalui “Rumah Besar” IKAMA ini masyarakat Madura di Jakarta mampu memberikan kontribusi nyata serta dapat turut andil dalam proses memajukan bangsa, baik melalui sektor politik, ekonomi, pendidikan, sosial-budaya ataupun sektor lainnya.
Warga Jakarta asal Madura dengan berbagai latar belakang, mulai dari pengusaha besi tua, pedagang kaki lima, tukang parkir, kaum intelektual, politisi ataupun yang lainnya tentu menjadi sebuah kekuatan dan aset potensial yang memungkinkan bagi IKAMA berkarya lebih kreatif untuk ikut serta dalam proses memajukan peradaban ibukota Jakarta secara umum, dan khususnya dapat memajukan “peradaban” anggota IKAMA walaupun tidak harus tercerabut dari akarnya sebagai “Bangsa Madhureh”.
Oleh karena itu, melalui berbagai forum pertemuan silaturrahim atau koordinasi yang diselenggarakan oleh IKAMA para sesepuh tiada henti-hentinya menitipkan pesan terhadap sanak saudara atau “tantaretan madhureh” yang ada di Jakarta pada khususnya dan yang ada di Indonesia pada umumnya agar selalu menjaga dan berpegang teguh pada pepatah “dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung”.
Artinya hidup dimanapun yang sangat majemuk dan beraneka ragam, baik suku, budaya dan adat istiadat serta agama, tentu membutuhkan sikap luwes atau sikap terampil dalam beradaptasi dengan pergaulan hidup masyarakat (tidak eksklusif), serta memerlukan sikap patuh terhadap norma-norma sosial kehidupan masyarakat (odhi’ ta’ ngalak kareppah dhibi’).
Namun demikian, sikap beradaptasi terhadap budaya lokal maupun nasional tidak berarti “tantaretan madhureh” harus kehilangan jati diri atau karakter madhurenah, seperti: gemar gotong royong, tolong menolong, setia kawan, menjunjung tinggi kehormatan dan harga diri, serta lainnya.
