Kiprah IKAMA

Dari awal berdirinya hingga sekarang pengurus IKAMA selalu concern (istiqomah) terhadap kegiatan-kegiatan sosial keagamaan dan penguatan silaturrahim antar masyarakat Madura yang tinggal di Jakarta. Hal itu dilakukan oleh para tokoh dan sesepuh Madura sebagai bagian dari upaya membangun perekat sosial serta terciptanya hubungan emosional yang kuat antara sesama orang Madura yang ada di perantauan.

Dasa warsa terakhir ini, pengurus IKAMA dan sesepuh Madura seringkali menghadapi persoalan-persoalan (konflik horizontal) di Jakarta dan sekitarnya (jabodetabek) yang melibatkan warga Madura secara individu. Mereka terjun langsung ke lapangan untuk menemukan solusi permasalahan serta memberi bantuan kepada pihak-pihak yang memerlukan. Ada beberapa rangkaian peristiwa atau konflik horizontal yang menimpa orang Madura sejak awal tahun 2000-an, misalnya: peristiwa Cakung, Kramatjati, Pasar Burung Matraman, Cengkareng, Karawang, Cikarang, Jalan Cacing, Papanggo, Kwitang, dan kasus-kasus lainnya.

Selain itu, Pengurus IKAMA juga sering melaksanakan kegiatan sosial kemasyarakatan berupa santunan anak yatim, fakir miskin, lansia, memberikan bantuan dana atau material pembangunan sarana ibadah atau madrasah, dan membantu saudara-saudara yang tertimpa musibah bencana alam, seperti banjir ataupun kebakaran.

Di luar bidang sosial keagamaan, IKAMA juga menyediakan fasilitas dan sarana untuk kegiatan pendidikan, baik formal maupun non-formal. Bermula dari penyelenggaraan kegiatan pendidikan al-Qur’an dengan sistem tradisional ala pendidikan al-Qur’an di Madura yaitu dengan “sorogan” dan pendidikan keagamaan (saat ini diniyah), maka sejak pertengahan tahun 1980-an IKAMA mulai merintis penyelenggaraan pendidikan formal, yaitu SLTP (Sekolah Lanjutan Menengah Pertama) yang sekarang disebut SMP. Kemudian pada tahun 2002-an pengurus IKAMA mengembangkan kegiatan di bidang pendidikan dengan menambah penyelenggaraan pendidikan formal yaitu dengan membuka TK (Taman Kanak-Kanak) dan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) yang masing-masing diberi nama TK/SMP/dan SMK DARUL MA’ARIF IKAMA. Hingga saat ini semua lembaga pendidikan yang ada dalam asuhan dan binaan IKAMA masih tetap eksis, bahkan lulusan SMK Darul Ma’arif IKAMA dengan jurusan Akuntansi yang sudah memasuki angkatan ke-13 mulai diterima kerja di beberapa perusahaan berstandard nasional dan internasional.

Menyadari bahwa untuk memasuki millennium goals, era globalisasi, dan era informasi, pembangunan sumber daya manusia (SDM) berkualitas merupakan sesuatu yang niscaya, maka pendidikan sebagai ujung tombak pembangunan masa depan suatu bangsa, dituntut tidak hanya menyiapkan SDM yang lebih menekankan pada pengembangan intelektual semata tetapi juga harus diimbangi dengan moral-spiritual. Hal tersebut mutlak diperlukan karena akan menjadi pilar utama pembangunan nasional yang mandiri dan berkeadilan, serta menjadi jalan keluar bagi bangsa Indonesia dari krisis multi dimensi: kemiskinan, pengangguran, kesenjangan ekonomi, dan lainnya. Peran inilah yang sudah dicoba dilaksanakan selama ini oleh Pengurus IKAMA di Jakarta.

Di samping itu, IKAMA juga mengelola kegiatan pendidikan non-formal berupa kegiatan keagamaan (diniyah) berbasis pesantren yang dilaksanakan pada sore dan malam hari. Hal ini tetap dinilai penting dan relevan oleh pengurus IKAMA tidak semata-mata karena mayoritas warga Madura merupakan pemeluk agama Islam, melainkan karena kesadaran tentang minimnya pendidikan Agama bagi generasi muda di Jakarta. Semua upaya ini tentu merupakan sarana mewujudkan cita-cita mulia para pendiri IKAMA yaitu mengantarkan umat menjadi Khaira Ummah (umat yang berkualitas).